Shukatsu : Festival Mempersiapkan Kematian

 


Jepang memang terkenal sebagai negara dengan budaya yang unik. Walau tercatat sebagai salah satu negara maju di dunia, ternyata Jepang masih memegang teguh budayanya. Setiap aspek kehidupan dalam masyarakatnya punya hal menarik yang kadangkala membuat kita heran. Bahkan, untuk mempersiapkan kematian, warga di Jepang sampai perlu menyelenggarakan festival khusus.

Festival itu disebut “Shukatsu Festa” dan sangat terkenal di Tokyo dan kota lainnya. Shukatsu dalam bahasa Jepang berarti “mempersiapkan yang terakhir” atau festival melakukan persiapan kematian. Jadi, masyarakat Jepang bisa mempersiapkan upacara pemakaman yang terbaik dan sempurna sesuai keinginan mereka.

Tema festival itu memang “kematian”, namun suasananya sangat cerah dan ceria. Artinya mereka tak segan untuk mempersiapkan kematian mereka. Shukatsu Festa diadakan selama dua hari. Pada hari pertama, orang-orang bisa merasakan bagaimana perpisakan terakhir mereka dengan keluarga. Misalnya, mereka bisa berbaring di peti mati, mendengarkan ceramah tentang persiapan psikologis dan hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum kematian.

Saran yang kerap diberikan untuk memperisapkan kematian di Shukatsu, mulai dari usia 30 tahun. Dalam festival ini kita bisa mempersiapkan bentuk peti mana yang akan pilih untuk menyimpan jasad. Kemdian, adapula sesi pemotretan agar hasil fotonya bisa digunakan sebagi foto terakhir untuk upacara pemakaman.

Sementara pada hari kedua, vendor akan menampilkan produk andalan mereka. Mulai dari pilihan rambut sampai makeup. Sebab, tubuh bagian atas akan ditunjukkan kepada keluarga mereka setelah kematian.

Kita bisa berpura-pura mati untuk melihat workshop tentang mengurus jenazah ketika akan dimakamkan. Lalu ada stand yang menjelaskan kepada pengunjung tentang apa yang harus dilakukan dengan barang-barang mereka, seperti perhiasan, tas, atau pakaian. Bahkan menjelaskan bagaimana menuliskan pesan terakhir kepada keluarga dan teman.

Tren mempersiapkan kematian ini sebenarnya sudah lama terjadi di Jepang. Pada tahun 2014, festival ini sempat menarik minat masyarakat, di mana jumlah pengunjung diperkirakan mencapai lima ribu orang.

Komentar

Dunia Kampus 4.0

Postingan Populer