Tradisi Menyambut Kelahiran Bayi di Jepang

Setiap negara punya tradisi masing-masing dalam menyambut kelahiran bayi, termasuk di Jepang. Seperti yang kita ketahui bahwa Jepang memang dikenal dengan budayanya yang sangat kental. Banyak tradisi yang harus dijalani dari orang itu lahir sampai meninggal. Bahkan sebelum kelahirannya seorang bayi juga harus menjalani berbagai tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun.

Tradisi untuk menyambut kelahiran bayi tersebut bertujuan agar si kecil mendapatkan kehidupan terbaik di masa depan. Lalu, seperti apa ritual tersebut? Berikut inilah tradisi-tradisi yang dilakukan orang Jepang dalam menyambut kelahiran bayi.

 

1. Obi Iwai

Obi Iwai merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh ibu hamil di bulan ke-5 kehamilannya. Pada ritual ini, ibu hamil akan datang ke kuil untuk berdoa memohon kelancaran pada masa kehamilan hingga proses melahirkan nantinya.

Pada masa ini, sang ibu yang mengandung mulai menggunakan iwata Obi atau sabuk yang mengikat di perut. Ini merupakan tradisi pertama yang dilaksanakan dalam lingkaran hidup orang Jepang. Tradisi ini merupakan kebiasaan yang dilakukan orang Jepang untuk menyambut kedatangan bayi sebelum ia lahir ke dunia.

Janin yang berusia 5 bulan sudah berbentuk manusia dengan anggota tubuh yang lengkap. Oleh karena itu janin tersebut sudah mulai dapat diterima sebagai anggota yang akan hadir dalam kelompok suatu masyarakat. Untuk itu, dilakukan penyambutan karena ada rasa suka cita terhadap anggota baru yang akan lahir.

Ritual Obi Iwai disebut juga dengan ‘hari anjing.’ Disebut demikian, karena anjing diketahui memiliki proses melahirkan yang mudah. Jadi, orang-orang Jepang pada zaman dulu mulai berdoa di hari itu untuk mendapatkan kemudahan selama persalinan. Hingga kini, upacara OBI terus dilakukan dan dianggap sebagai hadiah pertama yang bisa diberikan oleh seorang ibu kepada bayinya.

 

2. Oshichiya

Oshichiya adalah perayaan yang diadakan pada malam hari ke tujuh setelah bayi lahir. Pada zaman dahulu, banyak bayi yang meninggal di saat usianya belum mencapai satu minggu. Karena itu, perayaan ini diadakan untuk mendoakan kesehatan si bayi.

Pada perayaan ini keluarga besar dan teman terdekat akan diundang. Acara tersebut menjadi momen untuk mengumumkan nama bayi secara resmi di keluarga. Biasanya, sang ayah akan menuliskan nama dan tanggal lahir bayinya di selembar kertas putih dengan huruf kanji. Kemudian kertas tersebut akan ditempelkan di dinding rumah mereka. Pada acara itu, keluarga besar akan berkumpul dan makan malam bersama.

Akan tetapi, sekarang ini banyak ibu dan bayi yang masih dirawat di rumah sakit meskipun sudah memasuki hari ketujuh kelahiran bayi. Karena itu, tidak perlu memaksakan untuk mengadakan perayaan Oshichiya tepat pada hari ke tujuh kelahiran bayi. Yang terpenting adalah perayaan diadakan saat ibu dan bayinya dalam keadaan sehat.

 

3. Omiyamairi

Setelah satu bulan lahir, perayaan selanjutnya adalah omiyamairi. Ini merupakan upacara ketika si bayi pertama kali mengunjungi kuil. Keluarga akan membawa bayi ke kuil untuk menunjukkan anak mereka kepada dewa-dewa. Tujuannya tak lain agar agar sang bayi selalu diberikan kebahagiaan dan kesehatan.

Bayi akan didandani dengan pakaian formal yang harus diberikan oleh keluarga dari pihak sang ibu. Bayi juga harus digendong secara khusus oleh sang nenek saat pergi ke kuil. Kemudian, pendeta di kuil akan memberikan doa-doa yang berisi harapan kebahagiaan dan kesehatan untuk si bayi. 

 

4. Hatsu-zekku anak laki-laki

Untuk anak laki-laki, Hatsu-zekku jatuh pada tanggal 5 Mei pertama di kehidupan mereka. Hatsu-Zekku untuk anak laki-laki sangat spesial bagi keluarga. Orang tua akan mendekorasi rumahnya dengan boneka samurai dan baju zirah. Mereka juga akan memasang koinobori atau boneka ikan koi untuk menunjukkan bahwa bayi mereka seorang laki-laki.

Ada pula makanan manis yang khusus dibuat pada musim tersebut sebagai simbol untuk memohon agar anak laki-laki tersebut mempunyai kehidupan yang lebih sukses. Tradisi Hatsu-zekku anak laki-laki ini merupakan salah satu tradisi kuno yang masih dipertahankan oleh masyarakat Jepang. Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-7.

 

5. Hatsu-zekku anak perempuan

Bila anak lelaki merayakan perayaan tanggal 5 Maret, berbeda halnya dengan anak perempuan. Hatsu-Zekku untuk anak perempuan juga sangatlah spesial bagi keluarga. Tanggal 3 Maret pertama di kehidupan bayi perempuan disebut Hatsu-zekku atau hinamatsuri pertama.

Hinamatsuri dirayakan oleh semua anak perempuan di Jepang dan dianggap sangat spesial. Orang tua akan mendekorasi rumahnya dengan 'boneka-boneka hina'. 'Boneka hina' digunakan karena menunjukkan kehidupan yang elegan dari kaisar dan keluarga bangsawan pada abad ke-8. Ritual dilanjutkan dengan menyantap sushi beraneka warna dan sake (alkohol) manis Jepang untuk berbagai kebahagiaan karena memiliki anak perempuan. 

 

5. Isshou Mochi


Isshou Mochi adalah tradisi perayaan ulang tahun anak yang pertama. Jika biasanya perayaan ulang tahun identik dengan tiup lilin dan potong kue, beberapa orang tua di Jepang merayakannya dengan cara unik. Mereka membiarkan anaknya berjalan sendiri sambil membawa mochi seberat hampir 2 kilogram di punggungnya. Mochi dianggap sebagai simbol makanan sakral dalam agama Shintoisme.

Anak-anak memang tidak diwajibkan bisa berjalan membawa mochi, tetapi mereka dapat melakukannya dengan mencoba membawanya di belakang punggung mereka dengan ikatan sehelai kain,. Selain itu, bila si kecil jatuh ketika membawanya, artinya kesialan pun akan hilang.

Itulah beberapa tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Jepang untuk menyambut kelahiran bayi. Tradisi-tradisi diatas menjadi salah satu ciri khas yang mewarnai keunikan dari negeri sakura ini.

Komentar

Dunia Kampus 4.0

Postingan Populer