Seppuku : Kematian Demi Melindungi Harga Diri
Di jepang,
ada ritual unik yang dinamakan Seppuku. Seppuku (dikenal luas sebagai
‘harakiri’ oleh orang asing) adalah ritual tinggi Jepang berupa bunuh diri
dengan mengeluarkan isi perut. Ritual ini pada awalnya ditujukan secara
spesifik untuk samurai, dengan melakukan hal itu mereka akan mendapatkan kehormatan
kembali untuk keluarga yang ditinggal dan untuk diri mereka sendiri untuk mati
dengan cara yang terhormat. Tindakan Seppuku sendiri secara teknis bukanlah
bunuh diri, tetapi lebih kepada menimbulkan luka fatal kepada diri sendiri.
Kaishakunin adalah orang yang melakukan pembunuhan sebenarnya dengan memenggal
kepala samurai tepat setelah dia selesai melakukan ritual seppuku.
Seppuku
bukanlah hal yang dilakukan karena rasa frustasi terhadap kehidupan seperti
kasus bunuh diri modern. Hal ini dilakukan untuk mengekspresikan kemarahan
terhadap situasi tertentu, sebagai rasa protes terhadap tuannya karena
perilakunya, untuk menebus tindakan tidak terhormat yang dilakukannya sendiri,
untuk menghindari penangkapan dan aib (kemungkinan disiksa dan eksekusi) di
dalam pertempuran, sebagai hukuman mencela tuannya, atau sebagai hukuman mati
pada pelaku kejahatan atas apa yang mereka lakukan.
Apapaun
alasan untuk melakukan Seppuku, hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan ijin
dan persetujuan dari pimpinan klan (dengan pengecualian bagi yang sedang dalam
pertempuran untuk menghindari penangkapan)
Sebelum
periode Edo (1600-1867), Seppuku dilakukan dengan cara yang kurang formal dan
dengan efek yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan ritual yang lebih formal
selama periode Edo. Samurai akan menggunakan Tachi (pedang panjang), Wakizashi
(pedang pendek) atau Tanto (pisau) untuk merobek usus dan memotong perutnya
secara horizontal. Kemudian dia akan mencabut pisau dari perutnya dan menusuk
tenggorokannya, atau menjatuhkan diri dengan posisi pedang tepat mengenai
jantungnya.
Dengan
datangnya periode Edo, Seppuku dilakukan dengan ritual yang lebih formal,
dilakukan di depan penonton (hanya untuk seppuku yang direncanakan), dengan
sebuah kematian yang cepat.
Seppuku atau Harakiri Masa Modern
Waktu
berlalu dan zaman berubah, namun motif warga Jepang bunuh diri belum bergeser,
masih didominasi oleh prinsip kesetiaan serta rasa malu. Kalau di masa lalu
setia pada majikan dan malu karena kalah perang, di masa modern kesetiaan itu
beralih pada perusahaan serta malu jika namanya tercoreng.
Seperti
dilakukan seorang pejabat tinggi salah satu anak perusahaan Nissho Iwai yang
melompat dari jendela sebuah gedung pencakar langit. Kisah bunuh diri itu
dimuat banyak media massa dan cukup menghebohkan. "Ini perusahaanku yang
abadi," tulisnya pada secarik kertas yang dibawanya terjun. Orang Jepang
memahami arti kata-kata itu sebagai sebuah tanda setia.
Selain
itu, ada pula bunuh diri yang dilakukan bersama-sama atau banyak orang. Misalnya
di Provinsi Aichi, pernah tiga orang perempuan mencoba bunuh diri dengan terjun
ke sungai. Dua orang tewas. Alasannya mereka tidak setuju pada sikap sekolah
mereka dalam menggariskan cara bergaul.
Di
Indonesia sendiri, selain angka bunuh diri yang jauh lebih kecil, alasannya pun
bisa ditebak. Selain itu, bunuh diri bukanlah budaya bangsa Indonesia seperti
halnya Jepang. Motif dari bunuh diri yang dilakukan tersebut mungkin hanya bisa
dipahami oleh bangsa Jepang sendiri.
Komentar
Posting Komentar